SELAMAT DATANG DI MULTI BLOG

Minggu, 02 Mei 2010

BUKAN SEKEDAR HIASAN (RENUNGAN)

Ada sebuah peribahasa yang lazim kita dengar: “Sediakan payung sebelum hujan”. Perkenankan saya sedikit mengubah kata-kata peribahasa itu menjadi: “memanfaatkan payung pada waktu hujan ”

Setiap orang pasti tahu bahwa payung sangat bermanfat pada waktu hujan. Dengan menggunakan payung, tubuh kita tidak basah kuyup saat berjalan di bawah hujan. Tetapi payung tidak hanya berguna pada waktu hujan. Payung juga dapat kita gunakan untuk menghindari teriknya matahari. Meskipun payung itu dapat bermanfaat bagi manusia, payung itu menjadi percuma jika hanya tersedia tetapi tidak dimanfaatkan.

Efesus 6 : 16 -17 memberi kita perlengkapan sebagai anak-anak Tuhan dalam menunaikan tugas pelayanan dan dalam menjalani kehidupan yang Ia berikan. Perlengkapan itu berupa perisai iman dan pedang roh. Akan tetapi apakah setiap anak-anak Tuhan sudah paham betul mengenai perlengkapan yang telah Ia berikan itu? Atau apakah kita sudah tahu keampuhan dari perlengkapan itu?

Masalahnya bagi kita sekarang adalah sudahkah kita memanfaatkan perisai iman yang dapat memadamkan semua panah api si jahat. Perisai iman itu adalah keyakinan penuh kita kepada Yesus Kristus. Dengan keyakinan ini kita akan senantiasa bertahan terhadap setiap serangan dan pencobaan si jahat. Sebab, jika kita berjalan berdampingan dan berserah hanya kepada Kristus, maka kita pasti akan diselamatkan dari setiap serangan dan pencobaan.

Perlengkapan lain yang Allah berikan kepada kita adalah pedang roh, yaitu Firman Tuhan. Apakah kita sudah tahu benar makna dan manfaat dari pedang roh itu?

Berbicara tentang alkitab, dapat dipastikan bahwa hampir setiap orang Kristen telah memilikinya, bahkan ada yang mempunyai lebih dari satu Alkitab. Tetapi apakah kita setiap hari sudah memanfaatkannya dengan benar, atau membaca dengan tekun? Apakah kita juga menyempatkan diri untuk merenungkan Firman Tuhan yang tertulis itu, yang merupakan makanan rohani setiap orang Kristen?

Pertanyaan yang sepele, namun dapat membuat kita terdiam. Diam bukan berarti telah menjadi bisu atau kekurangan kata-kata, tetapi terasa berat sekali kalau kita harus menjawab pertanyaan itu di hadapan Tuhan. Kesukaran kita menjawab pertanyaan itu menggambarkan kenyataan yang ada, bahwa banyak orang Kristen yang menjadikan alkitabnya sebagai pajangan saja.

Dalam sebuah kebaktian minggu, ketika pendeta mengajak jemaatnya membuka salah satu perikop dari kitab Yesaya, masih ada jemaat yang tidak tahu di bagian mana kitab Yesaya itu tercantum, apakah kitab Yesaya itu ada dalam perjanjian lama atau perjanjian baru? Kelihatannya memang aneh, bagaimana mungkin orang Kristen yang memiliki alkitab sendiri tak tahu menggunakan alkitab. Tetapi itulah kenyataannya. Senjata perlengkapan pemberian Allah berupa pedang roh, yaitu firman Tuhan masih dijadikan sebagai pajangan dan belum menjadikannya sebagai alat ampuh untuk melawan berbagai tantangan yang mengancam dalam kehidupan di dunia ini.

Seperti halnya payung merupakan barang yang sangat bermanfaat pada waktu hujan tetapi setelah musim hujan berlalu seolah-olah payung itu pun tidak perlu diperhatikan lagi, demikian juga alkitab sangat bermanfaat pada hari minggu, setelah pulang dari gereja tidak merupakan kebutuhan lagi.

Rasul Paulus mengingatkan Jemaat di Efesus dan juga kita, Jemaat pada dewasa ini, agar senantiasa mengenakan senjata perlengkapan Allah untuk melawan segala tipu muslihat iblis yang senantiasa ingin menjatuhkan anak-anak Tuhan.

Menyediakan sesuatu yang bermanfaat memang penting, tetapi yang lebih penting adalah tahu cara memanfaatkannya. Dengan mengetahui cara pemanfaatannya itu, maka apabila sewaktu-waktu ada ancaman datang, perisai iman dan pedang roh itu tidak menjadi sesuatu yang mubazir lagi. Hal itu menjadi nyata dalam kehidupan setiap anak Tuhan, yang selalu siap sedia bertempur sebagai laskar-laskar Kristus.

Eti, MULTI.

KISAH ARLOJI YANG HILANG (MOTIVASI)

Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri, si tukang kayu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu. Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya, namun usaha mereka sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang telah lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.

Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu datang mendekati tumpukan serbuk kayu. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang, ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.

"Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?", Tanya si tukang kayu.

"Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada", jawab anak itu.

Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam 'kesibukan dan kegaduhan'. Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan. "Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin." (Pengkhotbah 4:6)."

Di Kutip Dari Internet

PAHLAWAN TITANIC YANG SEJATI (RENUNGAN)

Masih ingatkah Anda tentang Titanic? Sebuah film yang diperankan oleh Leonardo dan Kate Winselt. Film tersebut diambil dari sebuah kisah nyata yang terjadi pada tahun 1912. Waktu itu malam hari tanggal 14 April 1912. Kapal RMS Titanic berlayar kencang di atas samudera Atlantic yang dingin menggigit, tanpa sadar bahwa malam naas itu akan mengisi halaman-halaman sejarah di kemudian hari. Di atas kapal mewah ini terdapat banyak orang-orang kaya dan terkenal. Pada saat peluncuran perdana kapal, Titanic merupakan benda bergerak terbesar yang pernah dibuat oleh manusia. Pada pukul 23.40 malam yang menentukan nasib itu, sebuah gunung es menggesek dengan amat kerasnya sisi kanan kapal, sehingga menghujani dek dengan es dan mengoyakkan enam bilik yang kedap air. Samudera raya masuk ke dalamnya. Di atas kapal malam itu ada John Harper dan putri kesayangannya, Nana, yang berusia enam tahun.

Menurut laporan dokumentasi, segera setelah jelas bahwa kapal akan tenggelam, John Harper langsung membawa putrinya menuju sekoci penyelamat. Masuk akal apabila dianggap bahwa pendeta duda ini dengan mudahnya akan dapat naik ke atas sekoci dan selamat; namun tampaknya hal itu tak pernah terlintas di dalam benaknya. Ia membungkuk dan mencium putri kecil yang amat berharga baginya itu; ditatapnya mata anak itu sambil berkata bahwa mereka akan berjumpa kembali satu hari kelak. Kilatan-kilatan di langit yang gelap di atas memantulkan air mata di wajahnya ketika ia berbalik dan menuju kerumunan orang yang putus asa di atas kapal yang sedang tenggelam itu.

Ketika buritan kapal mulai terayun ke atas, dilaporkan bahwa Harper tampak berusaha mendaki dek sambil berteriak "Wanita, anak-anak dan mereka yang belum diselamatkan masuk ke dalam sekoci!" Hanya beberapa menit kemudian, Titanic mulai terdengar bergemuruh jauh di bagian dalamnya. Banyak orang yang menyangka bahwa itu merupakan ledakan; padahal sebenarnya kapal raksasa itu secara harfiah sedang terbelah dua. Pada saat itu banyak orang yang melompat dari dek terjun ke dalam air es yang gelap di bawah. John Harper termasuk salah satu di antaranya. Malam itu 1528 orang masuk ke dalam air yang membekukan itu. John Harper tampak berenang dengan tergopoh-gopoh kepada orang-orang dan memimpin mereka kepada Yesus sebelum hipotermia (keadaan suhu tubuh di bawah titik terendah) menjadi fatal. Harper berenang menuju seorang pemuda yang telah naik ke atas kepingan yang terapung. Dengan napas terengah-engah ia bertanya, "Apakah anda sudah diselamatkan?" Pemuda itu menjawab belum. Harper kemudian mencoba menuntunnya kepada Kristus hanya untuk menerima jawaban tidak dari pemuda yang sedang shock itu. John Harper membuka jaket penyelamatnya dan melemparkannya kepada pemuda itu sambil berkata "Kalau begitu ini, Anda lebih membutuhkannya daripadaku" dan kemudian berenang menuju orang-orang lain. Beberapa menit kemudian Harper berenang kembali mendekati pemuda tadi dan berhasil memimpinnya untuk menerima keselamatan.

Dari 1528 orang yang masuk ke dalam air malam itu, enam di antaranya diselamatkan oleh sekoci-sekoci penolong. Salah satu di antaranya adalah pemuda yang naik kepingan yang terapung tadi. Empat tahun kemudian pada suatu pertemuan bagi mereka yang selamat, pemuda ini berdiri dan dengan air mata bercucuran mengisahkan kembali bagaimana John Harper, setelah menuntunnya kepada Kristus, berusaha berenang kembali untuk menolong orang lain, namun oleh karena air yang dingin seperti es itu, maka ia telah menjadi terlalu lemah untuk berenang. Kata-kata terakhir sebelum ia tenggelam di dalam air yang membekukan itu ialah "Percayalah kepada nama Tuhan Yesus dan anda akan diselamatkan". (Sumber: internet).

Kisah di atas menunjukkan kepada kita betapa besar pengorbanan seorang hamba Tuhan demi menyelamatkan jiwa sesamanya di saat detik-detik terakhir kehidupan. Dia telah melaksanakan amanat Tuhan sampai akhir hidupnya. Ini merupakan suatu teladan yang baik bagi kita, orang Kristen.

Sebelum Kristus terangkat ke sorga, ia memberi perintah kepada murid-muridnya untuk menjadikan semuah bangsa menjadi murid Yesusu Kristus dan menyebarkan injil ke seluruh dunia (baca Matius 28: 19 - 20). Perintah ini ditujukan juga kepada kita sebagai orang di masa kini yang percaya kepada Yesus Kristus. Halk ini tentunya membutuhkan kerja keras dan pengorbanan. Kita tidak dituntut untuk mengorbankan nyawa kita demi Tuhan dan sesama kita, sebagaiman kisah John Happer di atas. Kita diminta untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi serta mengasihi sesame seperti diri sendiri (baca Matius 22: 37 – 40). Janganlah malu melakukan kehendak-Nya, (baca Lukas 9: 26). Giatlah selalu dalam pekerjaan Allah dan tetaplah berdoa. Apabila tiba detik di mana hidupmu harus kembali kepada keabadian, hembuskanlah nafas terakhirmu dengan senyum karena Bapak di Sorga telah menyediakan tempat yang menyenangkanmu. Hal ini telah disampaikan Rasul Paulus dalam suratnya yang kedua kepada jemaat Tuhan di Filipi, demikian:

Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku; Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1: 20-21).

Jek, MULTI